KELAHIRAN GAJAH SUMATRA

(Elaphas Maximus Sumatranus)

*) Bambang Suworo, Maharani Zoo & Goa

 

PENDAHULUAN

Gajah Sumatra (Elaphas Maximus Sumatranus) saat ini termasuk satwa yang terancam punah (Critically Endangered) masuk dalam daftar merah satwa terancam punah yang dikeluarkan oleh Lembaga Konservasi Dunia  International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN). Termasuk seluruh Gajah Asia dan Sub-Spesiesnya mengalami nasib yang sama. Beberapa kantong habitat binatang purba yang masih hidup ini mengalami degradasi, karena adanya konversi hutan skala besar. Di samping itu adanya perburuan gading gajah membuat kehidupan gajah semakin terdesak di habitanya.

Faktor-faktor di atas merupakan penyebab semakin menurunnya kualitas habitat gajah yang memiliki kontribusi besar dalam membatasi distribusi populasi gajah di Sumatera. Mamalia besar ini sangat tergantung pada daerah  habitat luas sesuai dengan tuntutan makanan mereka, gajah Sumatera sangat rentan terhadap efek transformasi habitat (Leimgruber et al., 2003; Shannon et al., 2009).

Transformasi habitat gajah dengan mengubah fungsi hutan menjadi perkebunan merupakan masalah paling serius di pulau Sumatera. Terpeliharanya hutan dan dengan adanya satwa gajah diharapkan turut melestarikan proporsi populasi yang signifikan dari perwakilan ekosistem dan keanekaragaman hayati di pulau Sumatera khususnya dan Iandonesia umumnya.

Dari sisi kebijakan diperlukan sikap tegas pemerintah dalam hal menjaga kelestarian hutan sebagai habitat satwa-satwa yang dilindungi, termasuk di menjaga kelestarian Hutan Lindung dan Taman Nasional sebagai habitat penyangga dari satwa-sata yang dilindungi tersebut.

Dalam menjalankan fungsi skunder dalam bidang konservasi, Lembaga Konservasi memiliki tugas yang berat dan mulia untuk menjaga populasi satwa-satwa yang menjadi tanggung jawabnya.

 

Selayang Pandang Tentang Maharani Zoo & Goa

Untuk melengkapi Wahana Wisata Alam Goa Maharani, maka PT. Bumi Lamongan Sejati (Perseroan kerja sama antara Pemkab Lamongan dengan Jatim Park Group), membangun Kebun Binatang Modern (Modern Zoo). Pembangunannya dimulai pada akhir tahun 2007 dan dibuka untuk umum pada tanggal 25 Mei 2008.

Goa Maharani adalah salah satu goa di dunia dengan Stalakmit dan Stalaktit yang masih aktif. Stalakmit adalah: pembentukan gua secara vertikal (tumbuh dari bawah ke atas). Stalaktit (bahasa Yunani: stalasso, artinya “yang menetes”) adalah jenis speleothem (mineral sekunder) yang menggantung dari langit-langit gua kapur.

Sebagai Lembaga Konservasi Maharani Zoo & Goa memiliki tanggung jawab untuk melakukan konservasi ex-situ terhadap satwa-satwa yang menjadi tanggung jawabnya, terutama satwa-satwa yang dilindungi dan untuk menghindari kepunahan.

Dengan luas seluruh area tidak lebih dari 4 hektare, saat ini Mahaharani Zoo & Goa memiliki kolekasi satwa: 150 Species dengan jumlah koleksi 900 ekor.

 

Konservasi Gajah di Maharani Zoo

Sebelum memamaparkan tentang Konservasi Gajah di Maharani Zoo, berikut kami sampaikan tentang kondisi kandang gajah.

Kandang Gajah

Maharni memiliki Kandang Gajah yang luasnya tidak lebih dari 400 M2. Kandang tersebut dibagi menjadi 3 bagian, yaitu: Kandang Eksibit, Nahok dan Kolam Gajah.

Dengan kondisi luasan yang sangat terbatas, maka kami harus mengatur sedemikian rupa agar gajah tetap bisa leluasa beraktivitas dengan normal. Di area kandang terdapat 4 Nahok, masing-masing 2 nahok pada sisi kiri kandang dan 2 nahok pada sisi kanan kandang.

Foto 1: Kandang Gajah Maharani Zoo (Eksibit dan Nahok)

Pada area kandang juga dilengkapi kolam. Walaupun tidak terlalu luas (luas tidak lebih dari 50 M2) kolam tersebut bisa memberikan rasa nyaman pada gajah terutama saat mandi dan berkubang. Dan yang lebih penting walauan terbatas gajah dapat berperilaku secara alamiah saat mandi.

Foto 2: Kolam Tempat Mandi Gajah

 

Koleksi Gajah di Maharani

Klasifikasi Ilmiah Gajah

Kingdom : Mamalia
Filum : Chordata
Sub Filum : Vertebrata
Kelas : Mammal
Superordo : Afrotheria
Ordo : Proboscidea
Famili : Elephantidae

Sejak bulan April 2015, Maharani Zoo & Goa memiliki 3 ekor Gajah Sumatra (Elaphas Maximus Sumatranus), 1 ekor Gajah jantan dan 2 ekor Gajah betina. Setelah melakukan konservasi selama 2 tahun, pada tanggal 10 September 2017 lahir 1 ekor anak Gajah. Data Gajah tersebut adalah sebagai berikut:

Gajah Berasal Dari Tangkapan

No Nama Jenis Kelamin Umur Saat Ditemukan Tanggal Ditemukan Umur Saat Ini Asal Gajah
1 Ramboo Jantan 17 tahun 2 bulan 20 Februari 1996 38 tahun Banyuasin, Sumsel
2 Devy Betina 23 tahun 4 Bulan 15 September 1998 42 tahun Banyuasin, Sumsel
3 Mayang Betina 18 Tahun 3 Bulan 20 Juli 1998 37 tahun Banyuasin, Sumsel

 Gajah Hasil Penangkaran Maharani Zoo & Goa

No Nama Jenis Kelamin Tanggal Lahir Keterangan
1 Maharani Betina 10 September 2017 Hasil penagkaran Marani Zoo & Goa

 Foto 3: Gajah Jantan Ramboo

 

Foto 4: Gajah Batina Devy

 

Foto 5: Mayang dan anaknya Maharani

 

TAHAPAN REPRODUKSI GAJAH

Dari berbagai literatur didapatkan informasi, bahwa  Gajah betina siap bereproduksi setelah berumur 8-10 tahun, sementara gajah jantan setelah berumur 12-15 tahun. Gajah betina mempunyai masa reproduksi 4 tahun sekali, lama kehamilan 19-21 bulan dan hanya melahirkan 1 ekor anak dengan berat badan lebih kurang 90 kg. Seekor anak gajah akan menyusu selama 2 tahun dan hidup dalam pengasuhan selama 3 tahun.

Secara ringkas Tahapan Reproduksi Gajah  adalah sebagai berikut:

  1. Tahapan Pra Konsepsi
  2. Tahap Konsepsi
  3. Tahapan Kehamilan & Pre Partum
  4. Tahapan Partum & Post Partum

I. Tahapan Pra Konsepsi

Pada masa ini Gajah jantan akan mengalami masa “Musth” yaitu masa dimana Gajah jantan dewasa mengalami fase peningkatan hormon testosteron. Ciri-ciri utama gajah yang sedang mengalami musth adalah:

  1. Keluarnya cairan dari kelenjar temporaldi wajahnya.
  2. Gajah jantan dapat membuang air kecil dengan penis yang masih berada di dalam kulupnya, sehingga air seni akan menyemprot ke kaki belakangnya.
  3. Gajah berjalan dengan kepala yang terangkat dan berayun, mengorek tanah dengan gadingnya.
  4. Gajah jantan akan menjadi sangat agresif.
  5. Membuat suara gaduh, dan melambaikan satu telinga saja. Musth dapat berlangsung antara sehari hingga empat bulan.
  6. Jika di alam liar sering ditandai perkelahian antar kelompok.

Foto 6: Gajah Jantan yang memasuki masa “Musth”

Gajah betina siap bereproduksi setelah berumur 8-10 tahun.  Gajah betina yang memasuki masa dewasa kelamin berada pada fase di mana  siklus estrus mengeluarkan feromon di air seni dan sekresi vaginal lainnya, hal ini untuk menunjukkan kesiapannya dalam berkawin.

Siklus estrus gajah betina berlangsung selama 14–16 minggu dengan fase folikular selama 4–6 minggu dan fase luteal selama 8–10 minggu. Pada fase folikular, gajah mengalami dua kali peningkatan kadar hormon pelutein.

Peningkatan hormon pelutein yang pertama (atau anovulatori) dapat memberi sinyal kepada gajah jantan bahwa sang betina sedang mengalami siklus estrus dengan mengubah baunya, tetapi ovulasi baru terjadi pada peningkatan kedua (atau ovulatori). Tingkat kesuburan pada gajah betina mulai berkurang pada usia 45–50 tahun.

Tanda perilaku Gajah betina yang siap kawin adalah dengan menyodorkan organ genitalnya kepada Gajah jantan.

Gajah jantanan akan mengikuti pasangan potensial dan menilai keadaannya dengan melakukan respons flehmen, yaitu mengumpulkan sampel kimiawi dengan menggunakan belalainya dan membawanya ke organ genital Gajah betina.

 

II. Tahap Konsepsi

Setelah kita mengetahui tanda-tanda dewasa kelamin baik dari perilaku maupun hormonal, maka Gajah siap kawin. Di habitatnya Gajah jantan akan memilih Gajah betina yang mengalami siklus estrus dan menjaganya dari Gajah jantan yang lain.

Di Lembaga Konservasi, petugas harus peka dalam melihat tanda-tanda birahi Gajah agar fase konsepsi dan perkawinan Gajah bisa efektif dan berhasil.

Pengelolaan Perkawinan Gajah di Lembaga Konservasi:

  1. Pada saat Gajah betina kelihatan perilaku birahinya, maka Gajah jantan diletakkan berdekatan dengan Gajah Betina.
  2. Jika kandang exhibit cukup luas, Gajah jantan dan Gajah betina dibiarkan dalam kondisi bebas tidak terikat, sedangkan apabila kandang exhibit tidak terlalu luas disarankan Gajah betina dirantai 1 kaki depannya sedangkan Gajah jantan dibiarkan bebas.
  3. Ritual perkawinan Gajah ini dilakukan beberapa kali, sampai ada indikasi Gajah betina hamil yang ditandai dengan tidak mau kawin lagi da nada tanda tanda-tanda perbuahan fisiknya.

 

III. Tahapan Kehamilan dan Pre Partum

Untuk memastikan bahwa Gajah positif hamil perlu dilakukan observasi secara fisik, perilaku Gajah dan pememeriksaan diagnosis lanjutan.

  1. Observasi Perubahan Fisik: perut semakin membesar.
  2. Dilakukan Pemeriksaan USG, untuk menegakkan diagnosis kehamilan dan prediksi usia kehamilan. Prediksi usia kehamilan sangat penting, karena untuk mempersiapkan kelahirannya.
  3. Jika Gajah positif hamil, perlu diberikan Vitamin dan Mineral. Di Maharani Zoo & Goa Gajah yang hamil diberikan Premix dengan dosis 50 gram, 2 hari sekali. Agar Premix efektif dicerna Gajah, pemberian Premix diberikan bersamaan dengan buah pisang (dimasukkan ke buah pisang).
  4. Setelah mengetahui usia kehamilan Gajah, maka menginjak pada usia kehamilan 20 bulan dilakukan tindakan berikut:
    1. Gajah yang hamil dijauhan dari kawannya.
    2. Dilakukan monitor 24 jam: CCTV, Piket Mahout dan Paramedis Satwa.

 

Foto 7: Persiapan USG Mayang

 

Foto 8: Pelaksanaan USG Mayang

 

IV Tahapan Partum & Post Partum

1. Pengamatan tanda2 kelahiran. Tanda-tanda fisiologis gajah yang akan melahirkan adalah:  

          Gejala yang timbul beberapa hari sebelum melahirkan:

  • Payudara membesar.
  • Organ genital membesar dan berwarna memerah.
  • Perilaku gajah cenderung hyperaktif.

             Gejala yang timbul pada saat akan melahirkan:

  • Organ genital semakin membesar dan posisinya turun.
  • Gajah sangat hyperaktif, gelisah dan sesekali disertai suara lengkingan.
  • Kedua kaki belakang bergerak aktif ke kiri dan ke kanan serta sesekali posisi setengan berjongkok dan ditandai dengan keluarnya cairan ketuban.
  • Jika cairan ketuban yang keluar semakin banyak, mendandakan bayi gajah segera lahir.
  • Setelah bayi gajah lahir, kaki belakang indul gajah berusaha menendang bayi gajah untuk memberikan stimulasi gerak secara alamiah.

 

Pertolongan Gajah yang disarankan pada saat kelahiran gajah.

  • Tempatkan gajah betina pada area tanah berumput, jauhkan dari gajah yang lain, tapi masih terlihat oleh gajah-gajah tersebut agar tetap merasa dalam “koloninya”.
  • Jika bayi gajah sudah lahir, biarkan beberapa saat. Secara naluriah, ada reaksi induknya yang menendang-nendangkan kaki belakang kearah bayi gajah, hal tersebut adalah reaksi alamiah untuk memberikan stimulasi gerak pada bayi gajah.
  • Apabila bayi gajah tidak segera bangkit, maka perlu dibantu dengan membersihkan sisa-sisa cairan ketuban dan darah pada seluruh tubuhnya dan ujung belalai dengan menggunakan handuk bersih.
  • Lakukan observasi dan jaga jangan sampai terinjak kaki induknya.

 

2. Tahapan Post Partum.

Pada tahapan ini yang terpenting adalah:

  1. Memastikan bahwa bayi gajah dalam keadaan sehat.
  2. Memastikan bahwa induk gajah care dengan bayi gajah.
  3. Produksi air susi induk gajah mencukupi dan proses laktasi berjalan baik sehingga bayi gajah tumbuh sehat.
  4. Secara bertahap melakukan sosialisasi bayi gajah dengan kawanan yang lain terutama dengan gajah betina yang lain, agar bayi gajah segera diterima oleh kawanan gajah di LK.
  5. Memonitor perkembangan bayi gajah.


 

Merawat Gajah Berpedoman pada “Animal Welfare”

Keberhasilan konservasi gajah di Maharani Zoo tidak lepas dari konsistensi seluruh team dalam menerapkan Prinsip Animal Welfare dalam merawat gajah dan satwa lain. 5 Prinsip Kesejahteraan Satwa, tersebut adalah:

  1. Kebebasan dari rasa haus, lapar dan kekurangan gizi. Nutrisi yang kami berikan adalah
    • Nutrisi Rutin, terdiri atas: rumput Kalanjana, buah pisang, buah apel, jagung muda dan wortel.
    • Nutrisi Tambahan, terdiri atas: rumput Gajah, pohon pisang, pohon jagung dan daun kepala segar.
    • Pemberian Vitamin dan Mineral. Pemberian Mineral Premix, dengan dosis:                                                Pemberian Reguler: 1 minggu sekal1 @ 50 gram                                                                                                     Gajah betina hamil: 2 hari sekali @ 50 gram

         2. Kebebasan dari ketidaknyamanan secara fisik.

    a. Gajah perlu suasana yang nyaman dan fisik yang segar, oleh karena itu harus dimandikan secara rutin

    Foto 9: Memandikan Gajah

             b. Gajah perlu Exercise, diajak “jalan-jalan” dengan tujuan mereduksi stress dan menghindari obesitas karena kekurangan aktivitas.

    Foto 10: Gajah diajak “jalan-jalan” di area kandang.

    1. Kebebasan dari rasa sakit, luka dan penyakit.
      1. Pemeriksaan kesehatan secara rutin, meliputi: fisik gajah, belalai, telapak kaki dan kuku dan lain-lain.
      2. Melakukan pemeriksaan mulut, untuk memastikan bahwa tidak ada sisa-sisa makanan atau barang lain di mulut, pangkal gading atau di sela-sela gigi.
      3. Pemeriksaan darah dan feces sesuai kebutuhan.
      4. Melakukan Deworming sekurang-kurangnya 3 bulan sekali.
      5. Melakukan pembersihan telapak kaki dari kotoran, batu, kerikil atau barang-barang lain yang mengganggu telapak kakinya.
      6. Melakukan pembersihan kuku (pedicure) sekurang-kurangnya 3 bulan sekali.
      7. Pemberian terapi obat-obatan sesuai dengan kebutuhan penyakitnya.
      8. Melakukan exercise pada anus dan organ geninal untuk persiapan jika diperlukan terapi.

     

     

    Foto 11: Pemeriksaan Mulut Gajah

     

    Foto 12: Pemeriksaan Telapak Kaki dan Pedicure Gajah

    Foto 13: Pemeriksaan Fisik Gajah

    1. Kebebasan untuk mengekspresikan perilaku secara normal.
      1. Gajah perlu dilakukan Exercise dengan mengajak jalan-jalan di area. Manfaat: mereduksi stress gajah dan mengurangi obesitas.

    Foto 14: Gajah diajak jalan (Exercise).

     

    • Membiarkan gajah mandi di kolam dengsan pengawasan tidak langsung.

    Foto 15: Gajah dibiarkan berendam.

    Memandikan gajah di kolam dengan dikendalikan oleh Mahout.

    Foto 16: Gajah dimandikan di kolam dengan pengawasan Mahout.

     

    • Memperhatikan perilaku gajah secara khusus, jika ada tanda-tanda birahi gajah dikawinkan.

     

     

    1. Kebebasan dari rasa takut dan tertekan. Dengan memastikan kondisi dalam kandang dan cara merawatnya sehingaa satwa merasa nyaman.

     

    PENUTUP

    Keterbatasan luas lahan di LK Maharani Zoo tidak mengurangi semangat kami untuk melakukan konservasi sebaik mungkin. Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam menangani konservasi gajah di lahan LK yang sempit adalah:

    1. Agar dapat beraktivitas secara alamiah gajah membutuhkan area yang luas, namun bukan berarti dengan lahan yang sempit gajah selalu kondisi dirantai. Kami mengatur secara seimbang antara gajah dalam kondisi diikat dengan dalam kondisi bebas, singga gajah tetap merasa nyaman.
    2. Untuk memastikan bahwa gajah dalam kondisi sehat, maka pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh secara rutin menjadi sangat penting dilakukan. Pemberian pakan yang seimbang serta jumlah yang tepat dan bervariasi serta pemberian vitamin dan mineral mutlak harus dilakukan.
    3. Para Keeper atau Mahout Gajah harus memberikan perawatan dengan baik memperhatikan aspek kesejahteraan satwa sehingga gajah merasa nyaman. Dan yang lebih penting harus mampu mendeteksi tanda-tanda fisik atau perilaku tertentu, shingga dapat memerikan treatment yang tepat pada gajah. Misalnya pada saat gajah jantan memasuki masa “Musth”.